Kata-Kata yang Merengek Tidak Mau Tidur

Di pelosok yang mana listrik masih mengerjap-ngerjap bak bayi yang belum sempurna penglihatannya, seorang ibu menggendong bayinya yang meraung-raung karena lampu padam. Setiap cahaya hilang, bayi itu akan menangis sejadi-jadinya. Padahal tinggal tidur aja kenapa sih, Dik, kan enak tidur gelap-gelap. Apa yang mesti ditakuti?

Paul, si pujangga dalam pengasingan, keluar rumah dan menghampiri ibu tersebut.

“Bapaknya ke mana, Bu?”

Bukannya biasanya ibu yang punya kekuatan super untuk menenangkan anaknya? Kok malah bertanya tentang bapaknya? Oh iya, di motor bapaknya kan ada lampu. Bapak di sini adalah jawaban untuk mengembalikan terang.

screenshot_2017-01-23-09-05-58

Screenshot dari trailer “Istirahatlah Kata-Kata”

Layaknya bayi tersebut, kata-kata Paul yang seharusnya beristirahat di kala gelap pun merengek-rengek, meronta-ronta minta keluar. Mungkin mulut Paul bisa bungkam, tapi benaknya tak kenal lelah.

Namun mereka tidak bisa keluar dengan sempurna, malah jadi benang kusut akibat rasa takut. Paul lebih ketar-ketir sekarang ketika dikejar bayang-bayang, ketimbang langsung menghadapi para empunya, yaitu para “bapak” lengkap dengan senjata dan bot hitam. Ah, jadi ingat puisi “Daddy”-nya Sylvia Plath.

Paul lebih takut musuh yang mengendap-endap lalu menyergap ketika gelap daripada para “bapak” berseragam yang pasti ada di siang bolong.

Sosok “bapak” kali ini mengakhiri gelap dengan paksaan dan mungkin membangunkan Paul dengan sebuah tembakan di kepala.

Supaya bisa menulis, Paul butuh beberapa gelas tuak, serta rasa nyaman sekaligus nggak-enak-hati-karena-numpang menyeruak diantara gemuruh ketakutan. Dalam sebuah adegan yang mengaburkan batas antara dream sequence, mabuk, atau sekedar jalan-jalan kantuk di pagi buta, Paul akhirnya bisa “berak”––mengingat ada beberapa referensi soal buang air besar di film ini––puisi lagi sebelum terkapar di tangga rumah tempat dia menumpang.

“Istirahatlah Kata-Kata” pada akhirnya bukan hanya nina bobo lirih terhadap kata-kata yang tak mau tidur, tapi kalimat imperatif atau sebuah perintah dari Wiji Thukul sendiri untuk membungkam jati diri yang sesungguhnya demi perasingan yang aman. Film ini berusaha menggambarkan bagaimana konflik batin itu berujung pada kegagalan. Kata-kata tidak bisa beristirahat dan hanya akan menerobos ketika ditahan––sama halnya dengan jati diri yang terus memaksa bebas dibalik rambut pendek dan KTP palsu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s